Diesel One Solidarity lahir bukan dari strategi marketing. Ia lahir dari sebuah pencarian: mencari kembali rasa “wuahhh”—sukacita yang dulu terasa sangat nyata saat hidup serba terbatas.
Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayah bekerja puluhan tahun di sebuah toko besi dengan penghasilan yang minim. Ibu berjualan apa saja yang bisa dijual—keliling—bahkan saat kondisi fisiknya tidak sedang baik. Di rumah, prioritas kami jelas dan disiplin: kebutuhan dasar dulu—beras, listrik, dan biaya sekolah. Dan meski hidup pas-pasan, ayah tetap konsisten memberi untuk hal yang ia yakini benar. Itu bukan soal angka. Itu soal percaya.
Masa kecil saya minim fasilitas. Tidak semua kebutuhan bisa langsung terpenuhi. Bahkan hal sederhana seperti mengganti kacamata yang rusak bisa menjadi perjuangan. Tapi justru di tengah keterbatasan itu, saya mengenal “kebahagiaan kecil” yang dampaknya besar: satu kaos dan satu celana saat Natal, atau makan nasi goreng pinggir jalan bersama ayah—momen sederhana yang terasa mewah. Rasanya “wuahhh”.
Tahun 2011 saya mulai membangun usaha dengan zero capital. Pelan-pelan bertumbuh, lalu berkembang pesat. Saya mulai bisa membeli banyak hal yang dulu mustahil. Tapi anehnya, semakin banyak yang bisa dibeli, ada ruang kosong yang tidak ikut terisi.
Saya sempat mengalami fase “konyol tapi jujur”: membeli barang mahal, berharap bahagia—ternyata kosong juga. Di titik itu saya sadar: ada yang hilang. Dulu saya bahagia karena hal kecil. Sekarang saya punya “hal besar”, tapi rasa “wuahhh” itu tidak muncul lagi.
Jawabannya datang dari momen yang sangat sederhana: seorang teman butuh pakaian untuk dipakai pergi bersama. Saya persilakan dia memilih dari koleksi pakaian saya—sebagian bahkan masih baru. Saya memberikannya dengan ringan. Dan ketika saya melihat dia benar-benar bahagia, saya merasakan kebahagiaan yang berbeda. Bukan “senang karena punya”, tapi sukacita karena memberi.
Dari situlah saya mengerti: Happiness sering datang dari menerima. Joy datang dari membuat orang lain tersenyum.
Saya lalu membuat komitmen pribadi: setiap ulang tahun, saya tidak merayakan dengan pesta besar, tapi dengan berbagi kepada yang membutuhkan. Dimulai dari hal paling nyata: sembako dan bantuan langsung untuk orang-orang di sekitar. Dan setiap kali melakukannya, rasa “wuahhh” itu kembali—lebih kuat dari semua label brand yang pernah saya beli.
Seiring waktu, gerakan ini bertumbuh menjadi Diesel One Solidarity: sebuah komunitas kebaikan yang fokus pada dampak yang nyata, terutama pada pendidikan—karena pendidikan dulu adalah salah satu “jangkar” yang membuat saya bertahan dan naik kelas dalam hidup.
Kami percaya perusahaan bukan sekadar mesin profit. Perusahaan adalah ekosistem tempat orang bertumbuh, bekerja untuk keluarga, dan belajar menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Di titik itu, perusahaan punya amanah: menjadi channel of impact—penyalur manfaat yang terukur dan bermartabat.
Diesel One Solidarity berdiri di atas prinsip sederhana: It’s good to be blessed. It’s better to be a blessing.
Karena pada akhirnya, kebaikan yang konsisten akan selalu punya cara untuk kembali—bukan cuma dalam bentuk materi, tapi dalam bentuk sukacita yang tidak bisa dibeli.
Dicky Yohanes
Founder, Diesel One Solidarity